Wow! Siang Ini Rupiah Bertengger di 15.232 per Dolar AS - BUSER-NEWS | Berani Demi Tegaknya Hukum & Keadilan

Hot

Post Top Ad

Monday, October 8, 2018

Wow! Siang Ini Rupiah Bertengger di 15.232 per Dolar AS

Ilustrasi 
BUSER-JAKARTA | Nilai tukar rupiah terhadsap terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di awal pekan ini. Kenaikan imbal hasil obligasi AS jadi penyebab pelemahan rupiah.
Mengutip Bloomberg, Senin (8/10/2018), rupiah dibuka di angka 15.193 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 15.183 per dolar AS. Pada siang hari, rupiah semakin tertekan ke 15.232 per dolar AS.
Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 15.188 per dolar AS hingga 15.232 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 12,38 persen.
Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jidor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 15.193 per dolar AS, melemah jika dibandingkan denga patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 15.182 per dolar AS.
Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mengatakan bahwa naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) membuat daya tarik masuknya dana-dana ke pasar AS, sehingga memperkuat mata uang dolar AS.
"Imbal hasil untuk obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun naik menjadi 3,22 persen, tertinggi sejak Mei 2011," paparnya dikutip dari Antara.
Ia mengemukakan naiknya imbal hasil obligasi AS itu seiring respons pelaku pasar terhadap turunnya angka pengangguran di Amerika Serikat untuk bulan September menjadi 3,7 persen.
Kendati demikian, ia mengatakan, kemungkinan Bank Indonesia akan menjaga fluktuasi rupiah sehingga menahan tekanan lebih dalam. Diproyeksikan, rupiah akan bergerak di kisaran antara 15.180-15.190 per dolar AS.
Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan tren naik harga minyak mentah dunia dan kembali turunnya cadangan devisa turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
"Indonesia memerlukan dolar AS untuk impor minyak, kondisi itu akan menggerus cadangan devisa semakin banyak," katanya. (*)

Post Top Ad

Your Ad Spot